
Pameran seni rupa di Makassar berhasil menganyam masa lalu yang sakral dengan visi masa depan yang penuh imajinasi. “Kawali”, pameran seni rupa internasional yang digelar Program Studi Pendidikan Seni Rupa FKIP Universitas Muhammadiyah Makassar, bukan sekadar pameran biasa. Ini adalah sebuah manifesto budaya.
Dengan mengusung tema “Weaving Futuristic Islamic Aesthetics into Contemporary Visual Narratives”, pameran ini menantang para seniman dari 15 negara untuk melakukan pembacaan ulang yang berani terhadap simbol Kawali atau badik—sebuah simbol kehormatan (siri’) Bugis-Makassar. Di sini, badik tidak lagi hanya berupa senjata tajam, tetapi menjadi metafora untuk ketajaman gagasan, keberanian berekspresi, dan keteguhan identitas di tengah gelombang globalisasi.
Kurator pameran, H. Irsan Kadir, S.Pd., M.Pd., menggugah dengan pertanyaan reflektif: “Siapa panre bessi (pandai besi) masa depan? Di mana letak siri’ di era digital?” Melalui karya-karya yang dipamerkan, para seniman menjawabnya dengan menenun nilai-nilai spiritual dan etika ke dalam narasi visual yang futuristik. “Warisan tanpa visi hanya menjadi artefak mati. Sebaliknya, visi tanpa akar akan kehilangan jiwanya,” tegas Irsan.
Pameran Kawali adalah bukti bahwa seni lokal yang berakar kuat justru paling siap untuk berdialog dengan dunia. Sebuah langkah kecil dari Makassar, dengan gema yang menyentuh hati lintas bangsa.

