SENIRUPA.AC.ID, MAKASSAR — Aula Teater I Gift Universitas Muhammadiyah Makassar pada Sabtu, 11 April 2026, menjadi ruang akademik yang mempertemukan dunia kampus dengan dinamika industri kreatif kontemporer. Kegiatan kuliah tamu yang menghadirkan sineas nasional Garin Nugroho ini tidak hanya berfungsi sebagai forum ilmiah, tetapi juga sebagai ruang refleksi atas perubahan lanskap budaya visual di era digital.
Kegiatan yang terselenggara melalui kolaborasi antara Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Keluarga Alumni (DPP IKA) Unismuh Makassar dan Program Studi Pendidikan Seni Rupa FKIP Unismuh Makassar tersebut mengangkat tema intermedialitas dalam industri kreatif. Tema ini menegaskan bahwa praktik seni dan produksi kreatif dewasa ini tidak lagi berdiri secara terpisah, melainkan saling terhubung dalam ekosistem digital yang memadukan teks, gambar, suara, tubuh, dan narasi dalam satu ruang visual yang kompleks.
Dalam pemaparannya, Garin Nugroho menekankan pentingnya strategi kebudayaan dalam merespons perubahan zaman. Ia mengaitkan perkembangan tersebut dengan dimensi historis dan sosial, serta menggarisbawahi lima unsur penting dalam membangun peradaban kreatif, yakni fashion, bahasa, ekonomi, media, dan ruang komunikasi berbasis kesenian. Menurutnya, era saat ini ditandai oleh dominasi layar (screen culture), di mana teknologi tidak hanya berfungsi sebagai alat, tetapi juga sebagai medium utama pembentukan realitas sosial dan identitas individu.
Lebih lanjut, ia mengidentifikasi tantangan utama generasi muda terletak pada kecenderungan menjadi konsumen alih-alih produsen dalam ekosistem digital. Fenomena ini, menurutnya, berimplikasi pada melemahnya profesionalisme dan kurangnya kedalaman dalam praktik kreatif. Oleh karena itu, mahasiswa didorong untuk tidak hanya mengandalkan bakat, tetapi juga memahami karakter setiap medium, ruang distribusi, serta strategi presentasi karya secara tepat.
Dalam konteks tersebut, Garin juga menyoroti kompleksitas dunia digital yang ditandai oleh meningkatnya potensi manipulasi informasi dan kaburnya batas antara kebenaran dan konstruksi realitas (post-truth). Kondisi ini menuntut adanya literasi kritis serta kapasitas reflektif yang memadai agar generasi muda mampu berperan sebagai subjek aktif dalam produksi pengetahuan dan budaya.
Meskipun demikian, ia tetap menegaskan bahwa peluang dalam industri kreatif terbuka luas, terutama bagi mereka yang mampu mengolah nilai-nilai lokal menjadi ekspresi yang relevan secara global. Lokalitas, dalam pandangannya, merupakan fondasi utama bagi lahirnya karya autentik yang memiliki daya saing di tingkat internasional.
Ketua Program Studi Pendidikan Seni Rupa FKIP Unismuh Makassar, Meisar Azhari, M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya strategis program studi dalam memperluas wawasan intelektual dan kreatif mahasiswa. Mahasiswa diharapkan tidak hanya menguasai keterampilan teknis, tetapi juga memiliki kemampuan analitis dalam membaca perkembangan zaman serta kesiapan untuk beradaptasi dengan perubahan medium dan industri.
Senada dengan itu, Dekan FKIP Unismuh Makassar, Dr. H. Baharullah, M.Pd., mengapresiasi terselenggaranya kegiatan ini sebagai bentuk penguatan atmosfer akademik sekaligus kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman langsung dari praktisi yang memiliki rekam jejak nasional dan internasional.
Dukungan juga datang dari Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Unismuh Makassar yang melihat kegiatan ini sebagai jembatan strategis antara dunia akademik dan praktik profesional. Keterlibatan alumni diharapkan dapat membuka akses yang lebih luas bagi mahasiswa dalam memahami realitas industri kreatif secara komprehensif.
Secara keseluruhan, kuliah tamu ini menegaskan komitmen Program Studi Pendidikan Seni Rupa FKIP Unismuh Makassar dalam membangun ekosistem pembelajaran yang adaptif, kontekstual, dan berorientasi masa depan. Mahasiswa tidak hanya dipersiapkan sebagai pelaku seni, tetapi juga sebagai kreator yang mampu merespons, mengolah, dan memberi arah terhadap perubahan zaman melalui karya yang inovatif dan bermakna.

