PENDIDIKAN SENI RUPA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

Service Center

Telp: 0411-860837/860132

Email center

senirupa@unismuh.ac.id

Arabic Arabic English English French French German German Indonesian Indonesian Russian Russian Spanish Spanish
Arabic Arabic English English French French German German Indonesian Indonesian Russian Russian Spanish Spanish

ameran “Lintaswara” Mahasiswi Seni Rupa Unismuh Makassar Digelar di Jeger Barber & Coffee

senirupa@unismuh.ac.id Makassar – Hari ini, tepat pada tanggal 1 Juli 2025, Program Studi Pendidikan Seni Rupa Unismuh Makassar menggelar pameran studi penciptaan yang menampilkan karya dari tiga perupa wanita mahasiswi angkatan 2021, yaitu Musdalifah, Mutwahara Arafiah, dan Maddawati.

Mengusung tema “LINTASWARA”, pameran ini menjadi ruang ekspresi artistik yang merepresentasikan beragam perspektif, pengalaman, dan suara personal para perupa muda. Setiap karya yang ditampilkan mencerminkan eksplorasi ide, teknik, serta kepekaan estetis yang berkembang selama proses akademik mereka.

Pameran ini dikawal oleh kurator H. Irsan Kadir, M.Pd, yang turut memberikan arahan konseptual sehingga keseluruhan karya tersaji dalam narasi visual yang utuh dan bermakna.

Masyarakat umum dan pecinta seni diundang untuk menyaksikan langsung karya-karya tersebut di Jeger Barber & Coffee Shop Makassar. Pameran ini resmi dibuka hari ini dan akan berlangsung hingga 3 Juni 2025.

Melalui kegiatan ini, Program Studi Pendidikan Seni Rupa Unismuh Makassar kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong kreativitas mahasiswa serta menghadirkan ruang apresiasi seni yang inklusif dan inspiratif bagi publik.

Prodi Seni Rupa FKIP Unismuh Gelar Seminar Antar Bangsa Angkat Isu Seni Visual Islam dan Ekologi

Pendidikan Seni Rupa
Seminar Internasional
SENI RUPA.AC.ID, MAKASSAR — Program Studi  Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh) Makassar menggelar Seminar Antar Bangsa bertema “Contemporary Islamic Visual Art as an Ecological Interpretation: Narrative, Medium, and Social Context”, Kamis, 29 Mei 2025, di Minihall FKIP Unismuh Makassar.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian menuju pameran seni rupa antarbangsa bertajuk Oxys Twentyfive yang dijadwalkan pertengahan Juni mendatang. Seminar menghadirkan pembicara lintas negara, yakni Mr. M. Safar (CEO Inter Act Art, Sri Lanka) dan Pakar Pendidikan yang juga Dekan FKIP Unismuh, Erwin Akib, PhD. Sementara sesi dipandu oleh seniman visual Muh. Tahir dan Ketua Prodi Pendidikan Seni Rupa, Meisar Ashari, M.Sn.
“Ini bukan sekadar seminar teknis seni rupa, tetapi penguatan ideologis dan spiritual dalam praktik berkesenian, terutama dalam konteks Islam dan ekologi,” ujar Meisar Ashari dalam sambutannya.
Ia menekankan pentingnya menghadirkan karya yang bukan hanya kreatif, namun juga mengandung “roh ideologis” dan kepekaan sosial.
Seminar ini juga menjadi momen penegasan sinergi antara dosen dan mahasiswa dalam penyelenggaraan kegiatan ilmiah dan kultural.
Menurut Meisar, kegiatan ini digagas sepenuhnya oleh mahasiswa melalui Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) sebagai bagian dari ruang ekspresi dan pembelajaran kolektif.
Wakil Dekan I FKIP Unismuh, Dr. Baharullah, M.Pd., dalam sambutannya menyebut kegiatan ini sebagai bagian dari upaya internasionalisasi FKIP.
“Kehadiran pembicara dari berbagai negara sudah menjadi indikator bahwa program studi ini tidak lagi bermain di tingkat lokal,” ujarnya.
Ia juga mendorong agar kegiatan semacam ini ke depan digelar lebih terbuka, mengundang publik seni yang lebih luas untuk menyaksikan langsung karya-karya yang dipamerkan.
Pasca kegiatan, Meisar kembali menegaskan bahwa penguatan nilai-nilai keislaman dalam karya seni menjadi ciri khas yang diusung Prodi Pendidikan Seni Rupa Unismuh.
“Kami tidak ingin karya-karya hanya bersifat plural dan bebas tanpa arah. Harus ada nilai religius yang menjadi pembeda,” ungkapnya.
Seminar ini tidak hanya menjadi wadah refleksi dan dialog antarbudaya, tetapi juga bagian dari reposisi Unismuh Makassar sebagai institusi pendidikan tinggi Islam yang mengedepankan seni berbasis nilai dan narasi keumatan dalam konteks global.

Prodi Pendidikan Seni Rupa FKIP Unismuh Makassar Gelar Equanimity Exhibition di SMKN 3 Gowa

GOWA Program Studi Pendidikan Seni Rupa FKIP Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar menggelar Equanimity Exhibition di SMKN 3 Gowa. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, mulai 18 hingga 20 Februari 2025.

Pameran ini secara resmi dibuka oleh Ketua Prodi Pendidikan Seni Rupa FKIP Unismuh Makassar, Meisar Ashari, S.Pd., M.Sn.. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan implementasi dari kerja sama antara Prodi Pendidikan Seni Rupa FKIP Unismuh Makassar dan SMKN 3 Gowa. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan ruang apresiasi seni rupa kepada masyarakat, meningkatkan kreativitas dan motivasi, serta mewujudkan pelestarian budaya berbasis kearifan lokal. Selain itu, pameran ini juga mengusung konsep pemanfaatan limbah dan seni rupa Islami yang penting untuk diperkenalkan kepada generasi muda.

Sejumlah undangan turut hadir dalam acara ini, di antaranya Kepala SMKN 3 Gowa, Muh. Jafar, S.Pd., Ketua BKK SMKN 3 Gowa, Rustam, S.Pd., dosen dan staf Prodi Pendidikan Seni Rupa FKIP Unismuh Makassar, serta guru dan siswa dari SMKN 3 Gowa dan SMKN 2 Gowa. Mahasiswa Unismuh Makassar juga turut meramaikan kegiatan ini.

Dalam sambutannya, Ketua BKK SMKN 3 Gowa, Rustam, S.Pd., menyampaikan apresiasi positif terhadap pameran ini. Menurutnya, kegiatan ini sangat kreatif karena mengangkat tema yang menggabungkan suasana hati atau perasaan dengan seni, sehingga mampu menciptakan karya seni yang menarik.

Senada dengan itu, Kepala SMKN 3 Gowa, Muh. Jafar, S.Pd., mengungkapkan rasa syukur atas terjalinnya kerja sama antara Prodi Pendidikan Seni Rupa FKIP Unismuh Makassar dan SMKN 3 Gowa melalui pameran ini. Ia berharap kegiatan ini dapat menjadi sumber inspirasi bagi para siswa dalam menciptakan karya seni yang inovatif dan berkualitas.

Dikonfirmasi melalui WhatsApp, Ketua Prodi Pendidikan Seni Rupa FKIP Unismuh Makassar, Meisar Ashari, S.Pd., M.Sn., menekankan bahwa penekanan yang paling mendasar dari kegiatan ini adalah adanya jalinan kerja sama yang dapat berimplikasi pada penerimaan mahasiswa baru. Ia menambahkan bahwa SMKN 3 Gowa adalah sekolah berbasis keterampilan kerajinan yang dapat menyalurkan siswanya ke Prodi Pendidikan Seni Rupa Unismuh.

Dengan adanya Equanimity Exhibition, diharapkan semakin banyak generasi muda yang tertarik dan termotivasi untuk mengembangkan kreativitas dalam bidang seni rupa serta melestarikan budaya lokal melalui seni yang inovatif dan bernilai estetika tinggi.

Dr. Muh Faisal, M.Pd

Nama                         : Dr. Muh Faisal, M.Pd
NIDN                        : 0927022709
Pekerjaan                   : Dosen Unismuh Makassar
Tempat / Tgl Lahir    : Watampone, 27 Februari 1979
Jenis Kelamin             : Laki-laki
Alamat Rumah           : Perumahan Green Nurhidayat Blok A No.26
Kelurahan Romang Polong Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa
No. Handphone         : 085255847772
Alamat e-mail              : fysal@unismuh.ac.id

 RIWAYAT PENDIDIKAN:

  1. S3, Ilmu Antropologi Program Doktoral FISIP Universitas Hasanuddin, Tamat tahun 2018
  2. S2, Antropologi Program Magister Universitas Negeri Makassar, Tamat tahun 2009
  3. S1 , Seni Rupa Program Sarjara FBS Universitas Negeri Makassar, Tamat tahun 2004
  4. MAN 1 Watampone, Kab. Bone. Tamat tahun 1997
  5. MTs 1 Pesantren As’Adiyah Sengkang, Kab. Wajo. Tamat tahun 1994
  6. SD Negeri 7 Watampone, Kab. Bone. Tamat tahun 1991

KARYA ILMIAH:
Buku

  1. Historiografi Kebudayan Sulawesi Selatan diterbitkan Disbudpar Prov. Sulawesi Selatan, Tahun 2013
  2. Estetika Tari Pa’Raga diterbitkanBalai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sulawesi Selatan, Tahun 2016
  3. Sejarah Perjalanan I Makdi Dg Ri Makka, diterbitkan Disbudpar Prov. Sulawesi Selatan, Tahun 2012
  4. Antropologi Seni, diterbitkan Unismuh Makassar Tahun 2013
  5. Desain Nirmana, diterbitkan Unismuh Makassar Tahun 2014
  6. Opini Kebudayaan Sulsel,  diterbitkan MediaQita Foundation Tahun 2012
  7. Analisis Visual Kekerasan Simbolik, Depag Sulsel Tahun 2014
  8. Berpijak Dari Tanah Yang Bijak, Dewan Masjid Sulawesi Selatan. Tahun 2022Publikasi Jurnal
  1. Identity Contestation of Painting in Makassar, Jurnal International-SCIRJ Vol, VI Issue. VI Tahun 2018
  2. Medan Identitas Seniman Kontemporer (Repetisi dan Diferensiasi), Jurnal EMIK-UMMA Vol.2 No.1 Tahun 2019
  3. Masjid Tua Katangka Syekh Yusuf: Sinkretisme Visual dalam Pendekatan Semiologi, Jurnal Harmoni 3 No. 2  (1-20) Tahun 2013
  4. Peralihan Kepercayaan Masyarakat Sul Sel, Telaah antropologis Pra-Islam dan Periode Islamisasi Sul Sel, Jurnal Harmoni Vol.3 No. Tahun 2013.
  5. Estetika dalam Narasi Kebudayaan Populer. Jurnal Harmoni Vol. 1 No. 1 (1-18) Tahun 2011
  6. Manuskrip Lontara dalam Patahan Narasi Kebudayaan. Jurnal Harmoni Vol. 2 No. 1 (1-9) Tahun 2012
  7. Transformasi Visual Tekhnik Scribble Karya  Khorul Anwar Kota Malang Jatim. Jurnal Pend Seni Rupa Vol. 1 No. 1 (24-35) Tahun 2021

SEMINAR/LOKAKARYA/SIMPOSIUM

  1. Narasumber Seminar Kebhinnekaan, Forum Pembauran Kebangsaan, Makassar Tahun 2012
  2. Narasumber Seminar Kebudayaan: Historiografi Kebudayaan Sulsel. Disbudpar Sulsel, Hotel Alden 2013
  3. Narasumber Seminar Nasional Pengembangan Media Pembelajaran ITC dan Implementasi Teori Pengembangan Pembelajaran Humanistik. Unismuh Makassar, 2013
  4. Narasumber Seminar Nasional: Kulturasi Media dan Budaya Visual. BEM UNM Tahun  2014
  5. Narasumber Seminar Nasional: Obsesi Seni Rupa Kontemporer. Unismuh Makassar Tahun 2014
  6. Narasumber Simposium Nasional: Praktik Kuratorial di Sulsel. Makassar Biennale Tahun 2015
  7. Narasumber Seminar Nasional:  Peran Pemuda dalam Patahan Narasi Kebudayaan. IMM Tahun 2014
  8. Narasumber Seminar Nasional: Pendidikan Seni Berkemajuan. Unismuh Makassar, Tahun 2016
  9. Narasumber Seminar Nasional dan Bedah Buku Melawan Takdir. Unismuh Makassar, Tahun 2016
  10. Narasumber Seminar Nasional: Segmentasi Identitas dalam Dunia Seni Rupa. Unismuh Makassar, 2017
  11. Narasumber Seminar Nasional : Metodologi Penelitian Seni. Unismuh Makassar, Tahun 2017
  12. Narasumber Seminar Kebangsaan: Nalar Demokrasi dan Masa Depan Peradaban Bangsa Forum Studi Kebudayaan Sulsel, Tahun 2018
  13. Narasumber Seminar Pendidikan: Refleksi Pendidikan dan Pemberdayaan Kaum Marginal Kota, Knowledge, Interpreneur  and Research (KER) Sulsel, Tahun 2018.
  14. Narasumber Seminar International, F8:  “Celebration in Deversity”, Theme: Makassar Artist Regeneration, Pemkot Makassar, Tahun 2018
  15. Narasumber Seminar “Visual Art Culture”, Insitut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Sulsel, Tahun 2018
  16. NarasumberSeminar Nasional: Pembelajaran Seni di Era 4.0. Unismuh Makassar, Tahun 2019
  17. NarasumberSeminar Kepemudaan:  Masa Depan Kebudayaan. Yayasan Lontara Madani, Tahun 2019
  18. NarasumberLokakarya dan Pelatihan Aparatur Pemerintah Kota Makassar: “Pemilukada Serentak Tahun 2020” Makassar Madani, Tahun 2019
  19. arasumber Simposium Pendidikan: Refleksi Sistem dan  Pelaksanaan Pendidikan di Indonesia. DPW.PGK 2019
  20. Narasumber Seminar Nasional: Tantangan dan Peluang Pelestarian Budaya di Masa Pandemi. Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sulsel, Tahun 2020.
  21. Narasumber Simposium dan Bedah Buku: “Majene Kota Tua”.  Balitbang Pemba Kota Majene, Tahun 2020.
  22. Narasumber Seminar Kebudayaan: Falsafah Bugis Menjawab Tantangan Masa Depan Manusia. STAIN Bone 2021
  23. Narasumber Seminar Seni Rupa. FSD UNM, Tahun 2021
  24. Narasumber Seminar Budaya: Pemuda Berseni-Pemuda Berbudaya. DPD PKS Kota Makassar, Tahun 2021
  25. Narasumber Seminar dan Sosialisasi Kebangsaan Tema: Pappaseng, Falsafah Sastra Klasik Serta Sumber Nilai Etik dan Moral Masyarakat Bugis. DPRD Tk. 1 Sulawesi Selatan, Tahun 2021.
  26. Narasumber Seminar Museum: Eksistensi dan Relevansi  Museum di Tengah Perubahan Sosial Tekhnologi. Disbudpar Sulsel, BPCB dan Permeseuman Sulsel Tahun 2022.
  27. Narasumber Seminar Museum: Museum Sebagai Monumen Atas Nilai-nilai Keutamaan (Kearifan) dan Tonggak Pembentukan Karakter Bangsa. Disbudpar Sulsel, BPCB dan Permeseuman Sulsel Tahun 2022
  28. Narasumber Seminar Seni Budaya: Budaya Lokal sebagai Referensi Membangun Kreativitas. Unismuh Makassar 2022
  29. Narasumber Sejarah Tipologi Benteng Rotterdan dan Awal Mula Kota Makassar. TVRI Nasional, Tahun 2022
  30. Narasumber Seminar Museum. Disbudpar Sulsel, UPT Museum Sulsel Tahun 2023.

 

PENELITIAN:

  1. Kekerasan Dibalik Buku Pembelajaran Anak, Litbang Agama Makassar. Tahun 2014
  2. Estetika Tari Pa’Raga Sulawesi Selatan, Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulsel (BPNB), Tahun 2016
  3. I Makdi Dg Ri Makka, Disbudpar Sulsel. Tahun 2012
  4. Prospek Pengembangan Tanaman Hortikultura di Kec. Rumbia Kab. Jeneponto Sulsel. Balitbangda Sulsel, Tahun 2013
  5. Historiografi Kebudayaan Sulawesi Selatan, Disbudpar Sulsel Tahun 2013.
  6. Struktur Kemiskinan Nelayan Suku Bajo. FISIP Unhas, Tahun 2014.
  7. Praktik Kuratorial Seni Rupa di Makassar. Dikti, Tahun 2016
  8. Konflik Antara Masyarakat Pencari Kerang dengan Pemerintah Kecamatan Mariso (Studi Kasus Pembangunan Center Point Indonesia). Unhas, Tahun 2017
  9. Analisis Visual Ornamen Masjid Tua Katangka. UNM, Tahun 2009
  10. Politik Identitas Seniman Kontemporer. Departemen Antropologi FISIP Unhas
  11. Titik Balik Seni Rupa Sulawesi Selatan. Unismuh Makassar, Tahun 2017

 

PENGALAMAN KURATORIAL

  1. Kurator Makassar Biennale Tahun 2015 (Trajectory) di Makassar
  2. Kurator Pameran Tunggal Zaenal Beta Tahun 2016 di Taman Ismail Marzuki Jakarta
  3. Kurator F8 Fine Art Tahun 2017 di Kota Makassar
  4. Kurator Pameran Foto Jurnalis ANTARA Tahun 2013 di Societeit de Harmonie Makassar
  5. Kurator Tetap Pendidikan Seni Rupa FKIP Unismuh Makassar (Tahun 2012-sekarang)

 

PELATIHAN PROFESIONAL/KEILMUAN/KEAHLIAN:

  1. Pelatihan Instruktur Nasional, Kurikulum 2013 Bidang Pendidikan Antropologi yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta, 6-12 September 2014
  2. Pelatihan Pengembangan Keterampilan Dasar Teknik Instruksional (PEKERTI) yang diselenggarakan oleh Unismuh Makassar tanggal 4-10 Februari 2013.
  3. Bimtek Pendirian Institut Tekhnologi Turatea (ITT) yang diselenggarakan oleh Direktur Pengembangan dan Kelembagaan Dirjen DIKTI. Jakarta, 13-14 April 2018
  4. Pelatihan Pengelolaan  Open Journal System (OJS) yang diselenggarakan oleh Litbang Depag Sulsel Tahun 2015

 

PENGALAMAN ORGANISASI

  1. Ketua Umum Himpunan Seni Rupa FBS UNM Tahun 1999-2000
  2. Ketua Umum BEM – FBS UNM, Tahun  2000-2001
  3. Ketua Komisi II Maperwa UNM, Tahun 2002-2003
  4. Ketua II Kepmi Bone Komisariat Lapawawoi UNM, Tahun 2000-2001
  5. Ketua Umum Lingkar Intelektual Muda UNM, Tahun 2007-2009
  6. Ketua Bidang Advokasi PGRI Unismuh Makassar, Tahun 2012-2014
  7. Ketua Lembaga Lontara Pustaka Provinsi Sulawesi Selatan, Tahun 2013-skarag
  8. Ketua Yayasan Makassar Biennale, Tahun 2016
  9. Asosiasi Antropologi Indonesia, Tahun 2017
  10. Pendiri/Rektor Insitut Tekhnologi Turatea (ITT), Tahun 2017
  11. Sekretaris Umum Forum Pemaju Kebudayaan Sulawesi Selatan, Tahun 2018
  12. Wakil Sekretaris LSBO-Pimpinan Wilayah Muhammadiyah, Tahun 2017-2022
  13. Sekretaris Umum LSBO-Pimpinan Wilayah Muhammadiyah, Tahun 2022-2027

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Seni Rupa Unismuh Makassar Berhasil Tersertifikasi Internasional ISO 21001:2018

Seni Rupa Unismuh Makassar Berhasil Tersertifikasi Internasional ISO 21001-2018
Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar berhasil meraih sertifikasi ISO 21001:2018. Dalam proses sertifikasi ISO terdiri dari beberapa lembaga dan prodi yang terlibat, diantaranya: 2 badan, 2 biro, 2 UPTD, 5 lembaga, 8 fakultas dan 40 program studi. Salah satu Program Studi yang ikut merai sertifikasi internasional ISO adalah Program Studi Pendidikan Seni Rupa.
Proses audit ISO Prodi Pendidikan Seni Rupa dilaksanakan di Mini Hall FKIP Unismuh Makassar, tanggal 8 Agustus 2023;  bersamaan dengan  tiga Prodi di FKIP Unismuh Makassar yang sebelumnya telah memperoleh akreditasi Unggul dari LAM DIK, yaitu Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, dan Pendidikan Matematika. Dan hasilnya, empat  prodi tersebut berhasil memperoleh sertifikat Internasional ISO 21001-2018 setelah melalui proses audit yang cukup ketat dengan menunjukkkan seluruh dokumen yang diminta oleh TIM ISO perwakilan Jerman ini.
Setelah dikonfirmasi, Meisar Ashari selaku Ketua Prodi Pendidikan Seni Rupa menyampaikan bahwa proses audit ISO ini adalah salah satu terobosan baru dalam menunjukkan transformasi  Pendidikan Seni Rupa dalam melakukan pembenahan dan pengembangan tata kelola pendidikan, karena pada prinsipnya sertifikat ISO adalah pengakuan reputasi pendidikan seni dikancah Internasional yang harus dibuktikan. Perihal tersebut dipertegas oleh Muh Faisal selaku auditor internal Prodi  Seni Rupa bahwa dengan hadirnya Sertifikat ISO ini, Prodi Pendidikan Seni Rupa saatnya mengkonkritkan agenda strategis yang kompetitif agar tetap dapat menunjukkan korelasi positif antara prestasi ISO yang diperoleh dengan kualtas pendidikan seni rupa di Unismuh Makassar, dan tentu semuanya harus terus dibangun melalui komitmen visioner dan SDM yg unggul.
Berdasarkan penelusuran, sampai saat ini hanya dua perguruan tinggi di Indonesia yang telah memperoleh sertifikat ISO 21001:2018, yaitu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Universitas Muhammadiyah Makassar. Di Indonesia pada umumnya perguruan tinggi masih menggunakan ISO versi 90001:2015 yang menggunakan standar manajemen yang masih umum dan belum spesifik di bidang pendidikan. Olehnya Unismuh Makassar terkhusus Prodi Pendidikan Seni Rupa patut bersyukur, karena 
ISO 21001;2018 ini merupakan ISO yang khusus pada organisasi di bidang pendidikan. Semoga melalui pencapaian tersebut, Unismuh Makassar terus menunjukkan kualitas pendidikan yang lebih progresif terhadap kemajuan bangsa dan agama.(Red.Fy)

Kuliah Tamu Seni Rupa Unismuh: Studi Kritis Terhadap Konvensi dan Batasan Seni Melalui Pendekatan Filsafat Agama, Estetika, dan Sastra

Unismuh, 16 Juni 2023, Prodi pendidikan seni rupa FKIP Unismuh Makassar menggelar Kuliah Tamu dengan menghadirkan Wakil Ketua Lembaga Seni-Budaya (LSB) PP Muhammadiyah, Kusen, MA., Ph.D  atau akrab disapa dengan Kiai Cepu.

“Estetika Ruang Publik dalam Kajian Islam” yang diusung pada kuliah tamu kali ini diawali dengan puisi kritik atas kehendak kuasa yang  beroperasi pada tanah air, sebuah puisi yang diucapkan dengan penuh penghayatan. Pada kuliah tamu tersebut, alumnus doktor filsafat Belgorad State University-Rusia ini mempertegas melalui ungkapan-ungkapan metafor, bahwa pandangan tentang haram dalam tinjauan Islam dapat berdasarkan haram karena Illat dan haram karena Zat. Dosen Filsafat UIN Syarif Hidayatullah ini, memberikan perumpamaan bahwa haram karena Illat-nya  seperti air yang halal, tapi karena diperoleh dengan cara mencuri, maka air itu haram. Sedangkan haram karena Zat-nya seperti mengkonsumsi babi maupun khamar. Nah, hukum seni rupa itu dapat ditinjau dari Illat-nya. Banyak para ulama, termasuk pada lingkungan Muhammadiyah sendiri memandang perkara seni rupa tanpa melalui pemahaman mendalam terhadap esensi seni rupa. Kader Ulama Tarjih MTT PWM DKI Jakarta ini melanjutkan secara naratif bahwa terkadang masih banyak dijumpai pemahaman dan penggunaan dalil-dalil hadits tentang hukum seni rupa yang sifatnya dhaif. Sedangkan  dhaif adalah hadits yang di dalamnya tidak didapati syarat hadits shahih dan tidak pula didapati syarat hadits hasan. Pria kelahiran Cepu Kabupaten Blora Jawa Timur ini kembali menegaskan bahwa hukum seni rupa dapat ditinjau melalui tujuan dasar dari hakikat pengkaryaannya. Oleh karena itu, Kusen yang juga dikenal sebagai penggiat filsafat seni, agama, dan sastra ini menyampaikan perlunya langkah-langkah desakralisasi seni rupa sebagai bagian dari upaya untuk menerobos konvensi-konvensi yang seringkali membatasi kreatifitas dan produktifitas manusia. Termasuk cara menafsirkan seni yang dangkal serta penggunaan dalil agama yang lemah.

Kuliah tamu ini berlangsung di Mini Hall FKIP Unismuh Makassar dan mendapat apresiasi dan respon positif dari kalangan dosen, mahasiswa, pimpinan, maupun maupun perwakilan lembaga kemahasiswaan yang turut hadir dalam kegiatan ini. (Red. Fy)

Prodi Pendidikan Seni Rupa Unismuh Terakreditasi UNGGUL

Pendidikan Seni Rupa FKIP Unismuh Makassar yang berdiri sejak tahun 2008 telah menunjukkan pencapaian yang cukup signifikan. Pelaksanaan Asesmen Lapangan  (AL) pada tanggal 7-8 November 2022 oleh Lembaga Aktreditasi Mandiri Kependidikan (LAM-DIK) menghantarkan Prodi ini memperoleh predikat akreditasi UNGGUL.
Pencapaian tersebut adalah hasil dari proses kerja keras TIM Borang Akreditasi Pendidikan Seni Rupa yang didukung penuh oleh Dekan FKIP Unismuh Makassar, Erwin Akib, Ph.D.  Bahwa pada moment tersebut, Prodi pendidikan seni rupa  berhasil melakukan strategi pengembangan visioner yang terencana dan sistematis. Perihal tersebut dapat dilihat dari upaya pemajuan yang dilakukan seperti: pemukhtahiran kurikulum, produktifitas riset, publikasi ilmiah, gelar karya, pengabdian kepada masyarakat, sampai pada penyempurnaan dan pengefektifan pelayanan berbasis IT. Selanjtnya pada posisi tersebut, karakteristik keseni rupaan juga ditumbuhkan melalui aspek religi, pendidikan, dan kewirausahaan. Sehingga dengan demikian prodi ini mampu menghasilkan lulusan yang mandiri, dinamis, dan kreatif.

Simplifikasi di atas menunjukkan bahwa Prodi Pendidikan Seni Rupa Unismuh Makassar telah bersiap melakukan kompetisi dalam menjawab persoalan masa depan.
(Seni Rupa Unismuh/2022)

 

Pameran Dengan Misi Kaligrafi 2021

Pengantar Kurator “Pameran Pandemik 21” (Pameran Dengan Misi Kaligrafi 2021)

Dr. Eko Sugiarto – (Universitas Negeri Semarang)

Terselenggaranya Pameran Seni Rupa Universitas Muhammadiyyah Makassar (UNISMUH) menunjukkan kolaborasi artistik dari karya-karya mahasiswa Seni Rupa Unismuh. Bagaimana tidak, karya-karya tersebut merepresentasikan ekspresi estetik di satu segi, dan kapasitas kreatif di segi yang lain. Pameran ini secara khusus hendak menyampaikan misi dakwah melalui seni. Tegasnya, karya-karya yang disajikan adalah karya yang “Islami” untuk menunjukkan kagungan Yang Maha Pencipta. Inilah implementasi yang amat nyata dari lembaga Muhammadiyyah sebagai lembaga keagamaan yang tetap berpihak pada kebudayaan, dengan kesenian di dalamnya, sebagai warisan Nusantara.

Untuk membedah esensi seni sebagai media dakwah, mari kita kaji lebih jauh secara konseptual, khususnya interelasi antara kesenian dan sistem kepercayaan (agama) di dalam sistem kebudayaan dengan merujuk pada Koentjaraningrat. Kesenian dan agama adalah dua subsistem yang tak terpisahkan dalam kebudayaan. Bahkan, tak jarang menjadi sarana atau media penghelai nilai-nilai ke-Islaman. Begitu pula sebaliknya, aktivitas keagamaan senantiasa dilaksanakan secara simbolik dalam suatu kebudayaan dengan berbalut kesenian.  Dengan demikian, kita bisa tegaskan, bahwa tidak ada satupun manusia di muka bumi ini yang tidak memiliki kebutuhan estetik, yang membedakan ialah selera estetiknya.

Seni dan agama, adalah dua subsistem dalam kebudayaan yang senantiasa beriringan. Keduanya bisa saja bertentangan secara prinsip, namun juga bisa seirama apabila diselaraskan untuk mencapai kesadaran ke-Esaan Allah Swt. Catatan penting yang perlu kita torehkan dalam pameran ini ialah ‘manusia memang dikaruniai kemampuan mencipta seni secara indah’, tetapi sejatinya Allah-lah sumber keindahan dari segala keindahan yang ada di muka bumi ini.

Para seniman muda di era milenium ketiga ini, terutama yang tengah belajar di perguruan tinggi Islam, umumnya terjebak dalam dua dilema: di satu segi wacana teoritis dan praktik kesenirupaan kontemporer yang senantiasa menggiring keliaran berekspresi seni dan membongkar dogma-dogma yang kaku dalam kesenian, di segi lain nilai-nilai keagamaan (Islam) adalah mutlak. Uniknya, kondisi yang dilematis tersebut tidak lantas menjadi penghambat para mahasiswa seni rupa UNISMUH dalam berkarya seni. Kondisi tersebut justru direspons secara kreatif melalui karya-karya apik yang dipamerkan. Ini sangat membanggakan. Sebagai ciri khas akademiknya, pameran seni rupa UNISMUH memang berkomitmen untuk mengusung dakwah dengan seni sebagai medianya. Ciri khas ini patut untuk dipertahankan sebagai jati diri sekaligus identitas seni rupa UNISMUH, yang membedakan dengan seni rupa di perguruan tinggi yang lain, yaitu “berekspresi estetik yang berbasis pada nilai-nilai keagamaan”.

Di akhir tulisan  ini saya tegaskan bahwa “kreativitas adalah kata kunci” sebagai modal individu sekaligus modal sosial. Seni rupa UNISMUH berhasil menumbuhkan ini sekalipun di tengah pandemic Covid-19 dengan penyelenggaraan pameran bernuansa Islam. Pameran ini layak untuk diapresiasi oleh kalangan penikmat seni, akademisi, atau pihak lain yang menaruh perhatian besar terhadap kesenian.

WORKSHOP PEMBELAJARAN SENI RUPA

Pemda Kab. Barru dalam hal ini Dinas Pendidikan Kab. Barru.
memberikan kepercayaan kepada Prodi Pendidikan Seni Rupa FKIP Unismuh Makassar untuk memberikan materi dan pelatihan pada kegiatan Workshop Pembelajaran Seni Rupa pada tanggal 3 September 2022 di Kab. Barru. Kegiatan yang melibatkan guru-guru IGTKI se-Kab.Barru tersebut menjadi program pengembangan mutu pendidikan seni yang diharapkan mampu menciptakan model pembelajaran seni yang inovatif.
Materi ‘Seni Rupa: Apresiasi dan Kreasi’ yang dibawakan oleh Dr. Muh. Faisal, M.Pd sekaligus pemateri kegiatan ini menguraikan beberapa strategi dan inovasi pembelajaran seni dalam rangka mengatasi kelemahan apresiasi dan kreasi seni, termasuk strategi dan metode khusus dalam menciptakan karya seni yang sejalan dengan kepekaan visual dan pertumbuhan psikologi pendidikan anak. Pada aspek pedagogik, moment kali ini digunakan untuk mengenal strategi  pembelajaran adaptif melalui taksonomi ilmu seni rupa dalam kaitannya dengan ekosistem pendidikan. Kegiatan ini juga diwarnai dengan demonstrasi karya yang dipraktikkan langsung oleh guru-guru IGTKI. Kegiatan ini terselenggara berkat kerjasama Pendidikan seni rupa Unismuh dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Barru serta dukungan .  Pascola Oil Pastel.

SPEKTRUM PARADIGMA SENI DI SULAWESI SELATAN

Oleh: Dr. Muh Faisal – 

Kesenian Sulawesi Selatan di kenal sebagai kebudayaan tinggi dalam konteks kekinian. Karena pada dasarnya, seni tidak hanya menyentuh aspek bentuk (morfologis), tapi lebih dari itu dia mampu memberikan konstribusi psikologis. Disamping memberikan kesadaran estetis, juga mampu melahirkan kesadaran etis. Diantara kedua nilai tersebut, tentunya tidak terlepas dari sejauhmana masyarakat kesenian (public art) mampu mengapresiasi dan menginterpretasikan makna dan simbol dari sebuah pesan yang dituangkan dalam karya seni.
Berbicara tentang estetika, seolah kita terjebak pada suatu narasi yang menghantarkan kita pada pemenuhan pelipur lara semata, misalnya: gaya hidup, hiburan dan relaksasi. Kita lupa bahwa seni merupakan variabel yang dapat membentuk kesadaran sosial sekaligus kesadaran religius masyarakat. Di Sulawesi Selatan, nilai kekhasan kesenian dapat dikatakan sebagai sebuah wasiat kebudayaan yang menggiring kita pada lokal values (kearifan). Dibutuhkan pelurusan makna seni melalui aspek keilmuan agar dia tidak terjebak dalam arus kepentingan politik dan industri semata.
Klasifikasi Masyarakat Seni
Arnold Hausser,  seorang filosof sekaligus sosiolog seni asal Jerman mengindentifikasi bahwa masyarakat seni terbagi menjadi empat golongan. Yang pertama: Budaya Masyarakat Seni Elit, yaitu masyarakat seni intelektual yang banyak memberikan konstribusi perkembangan seni dalam suatu daerah. Masyarakat seni elit inilah yang banyak memberikan literature dan kajian holistik agar perkembangan seni dapat berjalan sesuai dengan konteks keilmuan, termasuk pakar kesenian, akademisi dan kritikus seni. Kedua: Budaya Masyarakat Seni Populer, yaitu masyarakat seni intelektual yang hanya mengedepankan kepentingan subjektifitas terhadap kebutuhan estetik yang berjalan sesuai dengan konteks (zaman). Masyarakat seni ini biasanya terdapat dari golongan mapan yang dis-orientasi seni, misalnya dokter, pengusaha, dan politikus. Ketiga: Budaya Masyarakat Seni Massa. Yaitu budaya masyarakat golongan menengah kebawah, biasanya golongan ini hanya mementingkan aspek kesenangan dan mudah larut dalam perkembangan peradaban. Dia senantiasa menikmati hidangan produk-produk kesenian tanpa memikirkan dampak akibatnya terhadap masyarakat luas. Dan yang keempat: Budaya Masyarakat Seni Rakyat. Masyarakat seni ini terbentuk secara spontanitas melalui kepolosan. Golongan ini juga senantiasa mempertahankan wasiat seni para leluhurnya. Dari sinilah budaya masyarakat seni elit memperoleh referensi dan inspirasi dalam memperkaya kajian kesenian dalam aspek kebudayaan.
Kekuasaan Politik
Dari simplikasi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa indikasi dari golongan budaya masyarakat seni di Sulawesi Selatan memiliki gejala pengkalasifikasin yang sama. Sehingga muncul pertanyaan, mengapa perkembangan kesenian di Sulawesi Selatan dari dulu mengalami kesenjangan?? Khususnya yang terdapat di Lembaga Kesenian di Sulawesi Selatan. Seperti kesenjangan yang terdapat di MUSYDA Masyarakat Kesenian yang dilakukan baru-baru ini, yang hanaya dikendalikan oleh peran-peran politis yang justru mengabaikan kepentingan masyarakat kesenian. Contoh lain kesenjangan kesenian yang telah terjadi sejak dulu adalah Dewan Kesenian Sulawesi Selatan (DKSS) yang berganti menjadi Badan Kordinasi Kesenian Nasional Indonesia (BKKNI) yang mempertegas dis-orientasi berkesenian dengan hadinya kebijakan struktural. Selanjutnya kehadiran Dewan Kesenian Makassar (DKM) yang dari dulu tidak dapat bersinergi dengan Badan Kordinasi Kesenian Nasional Indonesia (BKKNI). Belum lagi sinergitas sanggar-sanggar seni pertunjukan  dan komunitas kesenian lainnya yang seolah-olah sengaja dibenturkan dalam wilayah iklim politis. Dari pengkalisifikasin masyarakat seni di atas, tentunya dapat menghantarkan kita pada dampak yang terjadi dalam kerancuan berkesenian di Sulawesi Selatan. Seperti hadirnya lembaga kesenian yang dikendalikan oleh masyarakat seni populer atau pemilik kebijakan public yang tidak linear, bukan dari masyarakat seni elit yang terkesan diabaikan karena tidak memiliki bargaining politik. Perkembangan kesenian seni Sulawesi Selatan tidak lahir dari pengkajian holistik kebudayaan dari masyarakat seni rakyat, yang justru merupakan objek dan identitas lokal Sulawesi Selatan yang harus di pertahankan. Orientasi kesenian akhir-akhir ini lebih cenderung mengarah pada komersialisasi konteks, bukan estetika psikis, mitis maupun estetika yang bersumber dari falsafah kebudayaan kita. Olehnya dibutuhkan pemetaan peran-peran berkesenian yang sesuai dengan kapasitas pelaku kesenian, agar kiblat berkesenian di Sulawesi Selatan searah dengan tujuan kolektivitas  masyarakat seni.
Seni adalah ungkapan kejujuran yang membutuhkan nilai-nilai kolektivitas. Kejujuran dalam berkesenian  adalah jalan untuk mempertahankan wasiat kebudayaan. Bisa dibayangkan jika prilaku berkesenian dibatasi oleh kebijakan politik, maka yang terjadi adalah kesembrautan (syncretism) dan kebohongan atas naluri kesenian. Seperti yang terjadi pada penyelenggaraan sayembara patung tugu Sultan Hasanuddin di gerbang Bandara Internasional Makassar dan sayembara Cinderamata Makassar yang sampai saat ini mengalami kebuntuan implementasi karena hadirnya peran-peran politis yang memperkosa nilai-nilai kreatifitas seniman. Itulah sebabnya, mulai saat ini pengklasifikasian masyarakat seni harus diluruskan sesuai dengan kapasitasnya, termasuk peran struktural lembaga kesenian yang mestinya tidak hanya di kendalikan oleh masyarakat populer apatah lagi berorientasi pada hasrat politik yang berlebihan. Wajar kemudian, dalam konteks ini, lahirlah jargon-jargon yang tidak asing lagi terdengar disetiap komunitas kesenian Sulawesi Selatan yakni jargon: ‘Politisasi Masyarakat Kesenian’